1. KONSEP TUMBUH KEMBANG
Sebagai pemberi
pelayanan keperawatan, perawat memeberikan pelayanan dari mulai manusia sebelum
lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat kasus yang samapun tindakan yang
diberikan akan sangat berdeda karena setiap orang adalah unik, sehingga seorang
perawat dituntut untuk mengerti proses tumbuh kembang.
Tumbuh kembang merupakan
hasil dari 2 faktor yang berinteraksi yaitu
- faktor herediter
- faktor lingkungan.
Manusia dalam tumbuh dan
berkembang dipengaruhi oleh kondisi:
- fisik
- kogniti
- psikologis
- moral
- spiritual
Tumbuh kembang merupakan
proses yang dinamis dan terus menerus.
Prinsip tumbuh kembang
- tumbuh kembang terus menerus dan komplek
- tumbuh kembang merupakan proses yang teratur dan dapat diprediksi
- tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi
- setiap aspek tumbuh kembang berbeda dalah setiap tahapnya dan dapat dimodifikasi
- tahapan tumbang spesifik untuk setiap orang
Prinsip Perkembangan
dari Kozier dan Erb
- manusia tumbuh secara terus menerus
- manusia mengikuti bentuk yang sama dalam pertumbuhan dan perkembangan
- manusia berkembang menyebabkan dia mendapatkan proses pembelajaran dan kematangan
- masing-masing tahapan perkembangan memiki karakteristik tertentu
- selama bayi (infancy) dan balita merupakan saat pembentukan perilaku, gaya hidup, dan bentuk pertumbuhan.
Tumbuh kembang adalah
Orderly (tertib) dan sequential tetapi juga terus menerus dan komplek.
- Setiap orang memiliki pengalam yang sama bentuknya
- Setiap bentuk dan tingkat perkembangan adalah khas
Tumbuh kembang memiliki
pola teratur dan dapat diprediksi;
- Cephalocaudal (head to tail)
- Proximaldistal
- Symetrical
Tumbuh kembang berbeda
dan terintegrasi
Contoh syaraf tumbuh
khas atau berbeda karena berespon terhadap rangsangan yang berbeda.
Perbedaan aspek dalam
tumbuh kembang terjadi karena beda tahap, jumlah dan dapat dimodifikasi.
- tulang tumbuh cepat pada tahun pertama, selama tahun sebelum sekolah pertumbuhan tulang melambat
- bicara berkembang cepat pada usia 3 – 5 tahun
Tahapan tumbuh
kembangspesifik untuk setiap orang
Keterampilan dan
kematangan fisik dan psikologis berbeda dan khusus dari setiap orang
Teori tumbuh kembang
- Psychoanalisa dari Sigmund Freud
- Psichososial dari Erik Erikson
- Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget
- Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg dan Carol Gilligan
- Perkembangan kepercayaan dari James Fowler
Psikoanalisa
- Oral (0-18 bulan), kesenangan berpusat pada mulut
- Anal (8 bulan – 4 tahun), kesenangan pada anal
- Phallic (3 tahun – 7 tahun), tertarik pada perbedaan jenis kelamin
- Latency (5 tahun – 12 tahun)
- meningkat peran sex
- proses identifikasi pada orang tua
- persiapan berperan sebagai orang dewasa dan menjalin hubungan
- Genital (12 tahun – 20 tahun)
- Menjalin hubungan dengan hetero seksual
- Sexual pressures
Psikososial
Berdasarkan pada 4
konsep utama
- tahapan perkembangan
- tujuan dan tugas perkembangan
- krisis psikososial
- proses koping
Tahapan perkembangan
- basic trust vs mistrust
- autonomy vs shame & doubt
- initiative vs guilt (kesalahan)
- industri vs inferiority
- identity vs role confusion
- intimacy vc isolation
- generativity vs stagnation
- ego integrity vs despair (putus asa)
Basic Trust vs Mistrust,
(Infancy, 0-1 tahun)
Pada tahap ini bayi
mencari kebutuhan dasarnya seperti kehangatan, makanan dan minuman serta
kenyamanan dari orang lain dengan keyakinan bahwa setiap dia membutuhkan pasti
ada orang yang akan memberikan maka tumbuh pada dirinya sendiri kepercayaan
(trust). Mistrust disebabkan karena inkonsistensi, ianadequate atau unsafe
care.
Perilaku positif
- Kasih sayang
- Gratification (kegembiraan, kegiarangan)
- Recognition (pengakuan/penghargaan)
Autonomy Vs Shame &
Doubt (Toddler, 1-3 tahun)
- motorik dan bahasa berkembang
- mulai belajar makan, berpakaian dan toilet
- orang tua yang overprotec atau terlalu tinggi pengaharapan terhadap anak akan menyebabkan anak Shame & Doubt (malu dan ragu)
- Perilaku positif: tergantung kepada orang tua tetapi memmandang diri sendiri sebagai seseorang yang merupakan bagain dari orang tua
Initiative Vs Guilt,
(Preschool, 4 – 5 tahun)
- kepercayaan diri tumbuh maka anak akan memiliki isisiatif
- pengekangan menyebabkan perasaan berdosa
- Perilaku positif: menunjukan imajinasi, imitasi orang dewasa, mengetes realitas, anticipates roles (mengharapkan peran)
Industry Vs Inferiority
(School age, 6 – 11 tahun)
- anak senang menyelesaikan ssesuatu dan menerima pujian
- anak tidak berhasil menyelesaikan tugasnya akan menjadi inferior
- perilaku positif: memiliki perasaan untuk bekerja atau melaksanakan tugas, mengembangkan kompetisi sosial dan sekolah, melakukan tugas yang nyata.
Identity Vs Role
Confusion (Adolesence, 12 – 20 tahun)
- banyak perubahan yang terjadi pada fisik
- mencoba berperan dan apabila berhasil maka identitas akan terbangun akan tetapi apabila tidak akan terjadi kebingungan confusion
- perilaku positif: percaya pada diri sendiri (self certain), memiliki pengalaman sexual, comitmen terhadap ideologi/kepercayaan
Intimacy Vs Isolation (
Young adulthood 20 – 40 tahun)
- dewasa muda, membangun komitmen sehingga timbulah keintiman
- apabila tidak mampu membangun komitmen anak akan mengalami isolasi
- perilaku positif: menunjukan kemampuan untuk komitmen terhdap diri sendiri dan orang lain, memmiliki kemampuan untu mencintai dan bekerja
Generativity Vs
Stagnantion ( Midle adulthood, 41 – 65 tahun)
- memikirkan keturunan (generasi)
- stagnasi disebabkan karena hanya memikirkan diri sendiri
- Perilaku positif: produktif dan kreatif untuk diri sendiri dan orang lain
Ego Integrity Vs Despair
(Late adulthood, 65 tahun – lebih)
- apabila orang dewasa tua tidak mampu membangun integritas egonya maka ia akan mengalami putus asa
- Perilaku positif; menghargai kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang, menerima siklus hidup dan gaya hidup, menerima kematian
Teori perkembangan
Piaget
Jean Piaget lebih
menekankan kepada perkembangan kognitif atau intelektual. Piaget menyatakan
perkembangan kognitif berkembang dengan proses yang teratur dengan 4
urutan/tahapan melalui proses ini:
- Assimilasi, adalah proses pada saat manusia ketemu dan berekasi dengan situasi baru dengan mengunakan mekanisme yang sudah ada. Pada tahap ini manusia mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru termasuk cara pandang terhadap dirinya dan duania disekitarnya
- Akomodasi, merupakan proses kematangan kognitive untuk memecahkan masalah yang sebelumnya tidak dapat dipecahkan. Tahap ini dapat tercapai karena ada pengetahuan baru yang menyatu.
- Adaptasi, merupakan kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan
Tahapan Perkembangan Piaget
|
Tahap
|
Usia
|
Tingkah laku yang signifikan
|
|
Sensorimotor
|
0 – 2 tahun
|
Perilaku preverbal,
kegiatan motorik sederhana terkoordinasi, dapat mempersepsikan perasaan yang
berbeda
|
|
Preoperasional
|
3 – 7 tahun
|
Egoscentrism: dapat
menghubungkan konsep suatu benda dengan kenyataan, konsep elaborate
(rumit/panjang), mengajukan pertanyaan
|
|
Concrete operation
|
7 – 11 atau 12 tahun
|
Pemecahan masalah:
mulai mengerti hubungan seperti ukuran, mengetahuai kiri dan kanan, mempunyai
penda[at atau sudut pandang
|
|
Formal operation
|
11 – 15 atau 16 tahun
|
Hidup dalam
sekarang/nyata dan bukan sekarang/ tidak nyata, lebih mempokuskan kepada
sesuatu yang mungkin, dapat menggunakan alasan ilmiah, dapat menggunakan
logika
|
Robert J. Havighurst
Havighurst meyakini ada
6 periode atau tahap dari perkembangan.
- Infancy dan early childhood
- Middle childhood
- Adolesence
- Early Adulthood
- Middle Age
- Later maturity
6 Periode Havighurst
dari Tugas Perkembangan
|
Periode
|
Tugas
|
|
Infancy dan childhood
|
Belajar berjalan, belajar berbicara, belajar makan
makanan cair, belajar mengontrol eleiminasi kotoran dari tubuh, belajar
membedakan kelamin, menerima kestabilan psikologi, membentuk konsep sosial
dan fisik yang sederhana, belajar berhubungan emosi dengan orang tua, saudara
(sibling), dan orang lain, belajar membedakan benar dan salah, mengembangkan
nurani
|
|
Middle childhood
|
Belajar keterampilan
fisik yang penting dalam permainan, membangun perilaku yang menunjukan diri
sendiri sebagai organisme yang berkembang. Belajar mendapatkan teman sebaya,
belajar menilai peran feminim dan maskulin, mengembangkan keterampilan dasar
membaca, menulis dan menghitung, mengembangkan konsep yang penting dalam
kehidupan sehari-hari, mengembangkan nilai perasaan, moral, dan skala,
mendapatkan kebebasan individu, mempertahankan perilaku dalam kelompok dan
institusi.
|
|
|
Menerrima keadaan
fisik dan menerima peran maskulin atau feminim, mengembangkan hebungan dengan
jenis kelamin yang berbeda, memiliki ketidak tergantungan emosid engan orang
tua dan orang dewasa lain, memiliki jaminan ekonomi sendiri, memilih dan
mempersiapkan pekerjaan sendiri, mengembangkan keterampilan intelektual dan
konsep dalam kehidupan sipil, mempersiapkan perkawinan, dan kehidupan
berkeluarga, mendapatkan nilai dan sistem etik yang harmoni dalam memandang
dunia, memiliki keinginan dan menerima tanggung jawab perilaku sosial.
|
|
Early adulthood
|
Memilih teman hidup,
belajar hidup dengan pasangan perkawinan, memulai berkeluarga, memiliki anak,
mengatur rumah, mulai mendapatkan pekerjaan, memikirkan kepentingan umum,
menemukan grup hobies
|
|
Midle age
|
Menerima peran sivil
dan tanggung jawab sosial, membangun dan mempertahankan standar ekonomi
kehidupan, membantu remaja memmiliki tanggung jawab, menggunakan waktu luang
untuk mengembangkan kedewasaan, menerima dan menilai perubahan psikologis
usia pertengahan, mengatur waktu sebagai orang tua
|
|
Late maturity
|
Menerima penurunan
kekuatan fisik dan kesehatan, menerima pensiun dan penurunan pendapatan,
menerima kematian pasangan, membangun hubungan ekplisit dengan kelompok
seusia, kegiatan sosial dan melakukan kewajiban sipil, membangun kepuasan
kehidupan fisik
|
2. ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
Asuhan Keperawatan Pada Neonatus dengan BBLR
A.
Pengkajian
1.
Data Subyektif
Data subyektif adalah persepsi dan
sensasi klien tentang masalah kesehatan (Allen
Carol V. 1993 : 28).
Data subyektif terdiri dari
Biodata atau identitas pasien :
Bayi meliputi nama tempat tanggal
lahir jenis kelamin
Orangtua meliputi : nama (ayah dan
ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan
alamat (Talbott Laura A, 1997 : 6).
Riwayat kesehatan
Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui
dari riwayat antenatal pada kasus BBLR yaitu:
Keadaan ibu selama hamil dengan
anemia, hipertensi, gizi buruk, merokok ketergantungan obat-obatan atau dengan
penyakit seperti diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru.
Kehamilan dengan resiko persalinan
preterm misalnya kelahiran multiple, kelainan kongenital, riwayat persalinan
preterm.
Pemeriksaan kehamilan yang tidak
kontinyuitas atau periksa tetapi tidak teratur dan periksa kehamilan tidak pada
petugas kesehatan.
Hari pertama hari terakhir tidak
sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan postdate atau preterm).
Riwayat natal komplikasi persalinan juga
mempunyai kaitan yang sangat erat dengan permasalahan pada bayi baru lahir.
Yang perlu dikaji :
Kala I : perdarahan antepartum
baik solusio plasenta maupun plasenta previa.
Kala II : Persalinan dengan
tindakan bedah caesar, karena pemakaian obat penenang (narkose) yang dapat
menekan sistem pusat pernafasan.
Riwayat post natal
Yang perlu dikaji antara lain :
Agar score bayi baru lahir 1 menit
pertama dan 5 menit kedua AS (0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS
(7-10) asfiksia ringan.
Berat badan lahir : Preterm/BBLR
< 2500 gram, untu aterm ³ 2500 gram lingkar kepala kurang
atau lebih dari normal (34-36 cm).
Adanya kelainan kongenital :
Anencephal, hirocephalus anetrecial aesofagal.
Pola nutrisi
Yang perlu dikaji pada bayi dengan
BBLR gangguan absorbsi gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap
sehingga perlu diberikan cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi
bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk
mengkoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk
pemberian obat intravena.
Kebutuhan parenteral
Bayi BBLR < 1500 gram
menggunakan D5%
Bayi BBLR > 1500 gram
menggunakan D10%
Kebutuhan nutrisi enteral
BB < 1250 gram = 24 kali per 24
jam
BB 1250-< 2000 gram = 12 kali
per 24 jam
BB > 2000 gram = 8 kali per 24
jam
Kebutuhan minum pada neonatus :
Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari
Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari
Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari
Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari
Dan untuk tiap harinya sampai
mencapai 180 – 200 cc/kg BB/hari
(Iskandar Wahidiyat, 1991 :1)
Pola eliminasi
Yang perlu dikaji pada neonatus
adalah
BAB : frekwensi, jumlah,
konsistensi.
BAK : frekwensi, jumlah
Latar belakang sosial budaya
Kebudayaan yang berpengaruh
terhadap BBLR kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu
terutama jenis psikotropika
Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman
beralkohol, kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau pantang makanan tertentu.
Hubungan psikologis
Sebaiknya segera setelah bayi baru
lahir dilakukan rawat gabung dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini
berguna sekali dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta
dapat mempererat hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan
BBLR karena memerlukan perawatan yang intensif
2.
Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang
diperoleh melalui suatu pengukuran dan pemeriksaan dengan menggunakan standart
yang diakui atau berlaku (Effendi Nasrul,
1995)
Keadaan umum
Pada neonatus dengan BBLR,
keadaannya lemah dan hanya merintih. Keadaan akan membaik bila menunjukkan
gerakan yang aktif dan menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari
responnya terhadap rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai
dengan usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala dapat menunjukkan kondisi
neonatus yang baik.
Tanda-tanda Vital
Neonatus post asfiksia berat
kondisi akan baik apabila penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Untuk
bayi preterm beresiko terjadinya hipothermi bila suhu tubuh < 36 °C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu
tubuh < 37 °C. Sedangkan suhu normal tubuh
antara 36,5°C – 37,5°C, nadi normal antara 120-140 kali per menit
respirasi normal antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi post asfiksia
berat pernafasan belum teratur (Potter
Patricia A, 1996 : 87).
Pemeriksaan fisik adalah melakukan
pemeriksaan fisik pasien untuk menentukan kesehatan pasien (Effendi Nasrul, 1995).
Kulit
Warna kulit tubuh merah, sedangkan
ekstrimitas berwarna biru, pada bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.
Kepala
Kemungkinan ditemukan caput
succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung
kemungkinan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
Mata
Warna conjunctiva anemis atau
tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva, warna sklera tidak kuning, pupil
menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
Hidung
terdapat pernafasan cuping hidung
dan terdapat penumpukan lendir.
Mulut
Bibir berwarna pucat ataupun
merah, ada lendir atau tidak.
Telinga
Perhatikan kebersihannya dan
adanya kelainan
Leher
Perhatikan kebersihannya karena
leher nenoatus pendek
Thorax
Bentuk simetris, terdapat tarikan
intercostal, perhatikan suara wheezing dan ronchi, frekwensi bunyi jantung
lebih dari 100 kali per menit.
Abdomen
Bentuk silindris, hepar bayi
terletak 1 – 2 cm dibawah arcus
costaae pada garis papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti
adanya asites atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus
timbul 1 sampai 2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi
karena GI Tract belum sempurna.
Umbilikus
Tali pusat layu, perhatikan ada
pendarahan atau tidak, adanya tanda – tanda infeksi pada tali pusat.
Genitalia
Pada neonatus aterm testis harus
turun, lihat adakah kelainan letak muara uretra pada neonatus laki – laki,
neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus
keputihan, kadang perdarahan.
Anus
Perhatiakan adanya darah dalam
tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari faeses.
Ekstremitas
Warna biru, gerakan lemah, akral
dingin, perhatikan adanya patah tulang atau adanya kelumpuhan syaraf atau
keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
Refleks
Pada neonatus preterm post
asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah. Reflek moro dapat memberi
keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat atau adanya patah tulang (Iskandar Wahidiyat, 1991 : 155 dan Potter
Patricia A, 1996 : 109-356).
3. Data Penunjang
Data penunjang pemeriksaan
laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosa atau kausal yang tepat
sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula.
Pemeriksaan yang diperlukan adalah
:
Darah : GDA > 20 mg/dl, test
kematangan paru, CRP, Hb dan Bilirubin : > 10 mg/dl
B. Analisa Data dan Perumusan Masalah
Sign / Symptorn |
Kemungkinan Penyebab
|
Masalah
|
|
1. Pernafasan tidak teratur,
pernafasan cuping hidung, cyanosis,
ada lendir pada hidung dan mulut, tarikan inter-costal, abnormalitas gas
darah arteri.
|
Produksi surfactan yang belum optimal
|
Gangguan pertukaran gas
|
|
2.Akral dingin, cyanosis pada
ekstremmitas, keadaan umum lemah, suhu tubuh dibawah normal
|
- lapisan
lemak dalam kulit tipis
|
Resiko terjadinya
hipotermia
|
|
3.Keadaan umum lemah, reflek menghisap lemah, masih
terdapat retensi pada sonde
|
- Reflek menghisap
lemah
|
Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi.
|
|
4.Suhu tubuh diatas normal, tali pusat layu, ada tanda-tanda infeksi, abnormal
kadar leukosit, kulit kuning, riwayat persalinan dengan ketuban mekoncal
|
- Sistem Imunitas yang belum sempurna
- Ketuban
mekonial
- Adanya tali pusat yang belum kering
|
Resiko terjadinya infeksi
|
|
5.Akral dingin
Ekstremitas pucat, cyanosis, hipotermi,
distrostik rendah atau dibawah harga
normal.
|
- Metabolisme
meningkat
- Intake
yang kurang.
|
Resiko terjadinya hipoglikemia
|
|
6.Bayi dirawat di dalam inkubator di ruang
intensif, belum ada kontak antara ibu dan bayi
|
Perawatan intensif
|
Gangguan hubungan interpersonal antara ibu
dan bayi.
|
C. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan yang sering muncul pada neonatus dengan BBLR antara lain:
- Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan produksi surfactan yang belum optimal.
2.
Gangguan pemenuhan kebutuhan
nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
- Resiko terjadinya hipoglikemia b/d meningkatnya metabolisme tubuh neonatus
- Resiko terjadinya hipotermia b/d lapisan lemak kulit yang tipis
- Resiko terjadinya infeksi b/d tali pusat yang belum kering, imunitasyang belum sempurna, ketuban meconial
6.
Gangguan hubungan
interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan dengan rawat terpisah.
No |
Diagnosa Perawatan
|
Tujuan dan Kriteria
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Gangguan pertukaran gasb/d produksi
surfactan yang belum optimal
|
Tujuan:
Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
Kriteria:
- Pernafasan
normal 40-60 kali permenit.
- Pernafasan
teratur.
- Tidak
cyanosis.
- Wajah dan seluruh tubuh
|
1.Letakkan bayi
terlentang dengan alas yang data,
kepala lurus, dan leher sedikit tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal
atau selimut diatas bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm
|
1. Memberi
rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat mengurangi kelancaran jalan nafas.
|
|
|
|
Berwarna
kemerahan (pink variable).
- Gas
darah normal
PH
= 7,35 – 7,45
PCO2
= 35 mm Hg
PO2
= 50 – 90 mmHg
|
2. Bersihkan
jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
|
2. Jalan
nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin pertukaran
gas yang sempurna.
|
|
|
|
|
3. Observasi
gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam
|
3. Deteksi
dini adanya kelainan.
|
|
|
|
|
3. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian
O2 dan pemeriksaan kadar gas darah arteri
|
4. Mencegah
terjadinya hipoglikemia
|
|
2.
|
Resiko terjadinya hipotermi b/d lapisan
lemak pada kulit yang masih tipis
|
Tujuan
Tidak terjadi hipotermia
Kriteria
Suhu tubuh 36,5 – 37,5°C
Akral hangat
Warna seluruh tubuh kemerahan
|
. Letakkan
bayi terlentang diatas pemancar panas (infant warmer
|
1. Mengurangi
kehilangan panas pada suhu lingkungan sehingga meletakkan bayi menjadi hangat
|
|
|
|
|
2.
Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan bayi
diatas tubuh, letakkan bayi diatas handuk / kain yang kering dan hangat.
|
. Mencegah
kehilangan tubuh melalui konduksi.
|
|
|
|
|
3.Observasi suhu bayi tiap 6 jam.
|
3. Perubahan
suhu tubuh bayi dapat menentukan
tingkat hipotermia
|
|
|
|
|
4. Kolaborasi
dengan team medis untuk pemberian Infus Glukosa 5% bila ASI tidak mungkin
diberikan.
|
4. Mencegah
terjadinya hipoglikemia
|
|
3.
|
Resiko gangguan penemuan kebutuhan nutrisi
sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
|
Tujuan:Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria
- Bayi
dapat minum pespeen / personde dengan baik.
|
1. Lakukan
observasi BAB dan BAK jumlah dan
frekuensi serta konsistensi.
|
1. Deteksi
adanya kelainan pada eliminasi bayi
dan segera mendapat tindakan / perawatan yang tepat.
|
|
|
|
- Berat
badan tidak turun lebih dari 10%.
- Retensi
tidak ada.
|
2. Monitor
turgor dan mukosa mulut.
|
2. Menentukan
derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.
|
|
|
|
|
3. Monitor intake dan out put.
|
3. Mengetahui
keseimbangan cairan tubuh (balance)
|
|
|
|
|
4. Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan.
|
4. Kebutuhan
nutrisi terpenuhi secara adekuat.
|
|
|
|
|
5. Lakukan
control berat badan setiap hari.
|
5. Penambahan
dan penurunan berat badan dapat di
monito
|
|
|
|
|
5. Lakukan
control berat badan setiap hari.
|
5. Penambahan
dan penurunan berat badan dapat di
monito
|
|
4.
|
Resiko terjadinya infeksi
|
Tujuan:
Selama perawatan tidak terjadi komplikasi
(infeksi)
Kriteria
|
1. Lakukan
teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan
|
1. Pada
bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah.
|
|
|
|
- Tidak
ada tanda-tanda infeksi.
- Tidak
ada gangguan fungsi tubuh.
|
2. Cuci
tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
|
2. Mencegah
penyebaran infeksi nosokomial.
|
|
|
|
|
3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang
isolasi (kamar bayi)
|
3. Mencegah
masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi
|
|
|
|
|
4. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
|
4. Mencegah
terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat karena mengan-dung anti biotik, anti jamur,
desinfektan.
|
|
|
|
|
5. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
|
5. Mengurangi
media untuk pertumbuhan kuman.
|
|
|
|
|
6. Observasi
tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal
|
6. Deteksi
dini adanya kelainan
|
|
|
|
|
7. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
|
7. Mencegah
terjadinya penularan infeksi.
|
|
|
|
|
8. Kolaborasi dengan team medis untuk
pemberian antibiotik.
|
8. Mencegah
infeksi dari pneumonia
|
|
|
|
|
9. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL,
CRP.
|
9. Sebagai
pemeriksaan penunjang
|
|
5.
|
Resiko terjadinya hipoglikemia sehubungan
dengan metabolisme yang meningkat
|
Tujuan:
Tidak terjadi hipoglikemia selama masa perawatan.
Kriteria
- Akral
hangat
- Tidak
cyanosis
- Tidak
apnea
- Suhu
normal (36,5°C -37,5°C)
|
1. Berikan
nutrisi secara adekuat dan catat serta monitor setiap pemberian nutrisi.
|
1. Mencega
pembakaran glikogen dalam tubuh dan untuk pemantauan intake dan out put.
|
|
|
|
- Distrostik
normal
(>
40 mg)
|
2. beri
selimut dan bungkus bayi serta perhatikan suhu lingkungan
|
2. Menjaga
kehangatan agar tidak terjadi proses pengeluaran suhu yang berlebihan
sedangkan suhu lingkungan berpengaruh pada suhu bayi.
|
|
|
|
|
3. Observasi
gejala kardinal (suhu, nadi, respirasi)
|
3. Deteksi
dini adanya kelainan.
|
|
|
|
|
4. Kolaborasi
dengan team medis untuk pemeriksaan laborat yaitu distrostik.
|
4. Untuk
mencegah terjadinya hipoglikemia lebih
lanjut dan kompli-kasi yang ditimbulkan pada organ - organ tubuh yang lain.
|
|
6.
|
Gangguan hubungan interpersonal antara bayi dan ibu
sehubungan dengan perawatan intensif.
|
Tujuan :
Terjadinya hubungan batin antara bayi dan
ibu.
|
1. Jelaskan
para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.
|
1. Ibu
mengerti keadaan bayinya dan mengura-ngi kecemasan serta untuk kooperatifan
ibu/keluarga.
|
|
|
|
Kriteria:
- Ibu
dapat segera menggendong dan meneteki bayi.
|
2. Bantu
orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.
|
2. Membantu
memecah-kan permasalahan yang dihadapi.
|
|
|
|
- Bayi
segera pulang dan ibu dapat merawat
bayinya sendiri.
|
3. Orientasi
ibu pada lingkungan rumah sakit.
|
3. Ketidaktahuan
memperbesar stressor.
|
|
|
|
|
4. Tunjukkan
bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas).
|
4. Menjalin
kontak batin antara ibu dan bayi walaupun hanya melalui kaca pembatas.
|
|
|
|
|
5. Lakukan
rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi memungkinkan.
|
5. Rawat
gabung merupakan upaya mempererat hubungan ibu dan bayi/setelah bayi
diperbolehkan pulang.
|
|
|
|
|
|
|
D. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tindakan keperawatan adalah pelaksanaan
asuhan keperawatan yang merupakan realisasi rencana tindakan yang telah
ditentukan dalam tahap perencanaan dengan maksud agar kebutuhan pasien
terpenuhi secara optimal (Santosa NI,
1995).
E. Tahap Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan langkah akhir dari
proses keperawatan yaitu proses penilaian pencapaian tujuan dalam rencana
perawatan, tercapai atau tidak serta untuk pengkajian ulang rencana keperawatan
(Santosa NI, 1995). Evaluasi dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan
pasien, perawat dan petugas kesehatan yang lain. Dalam menentukan tercapainya
suatu tujuan asuhan keperawatan pada bayi dengan post Asfiksia sedang,
disesuaikan dengan kriteria evaluasi yang telah ditentukan. Tujuan asuhan
keperawatan dikatakan berhasil bila diagnosa keperawatan didapatkan hasil yang
sesuai dengan kriteria evaluasi.
Pengkajian
Pada bab tinjauan teori penkajian
ditekankan pada adanya perubahan suhu, nutrisi, interitas kulit, dan resiko
infeksi. Sedangkan pada tinjauan kasus pengkajian yang didapat adalah adanya
perubahan resiko perubahan suhu, kurangnya kebutuhan nutrisi, infeksi dan
keadaan integritas kulit.
Diagnosa
Keperawatan
Pada tinjauan teori di dapatkan enam
diagnosa keperawatan yakni :gangguan pertukaran gas, gangguan pemenuhan
nutrisi, resiko terjadi hipoglikemia, resiko terjadi hipotermia, resiko terjadi
infeksi dan gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi. Sedangkan pada
kasus nyata penyusun hanya mendapatkan 4 diagnosa dari klien yakni : gangguan
nutrisi, gangguan integritas kulit, resiko hipotermia, dan resiko terjadi
infeksi.
Rencana
Keperawatan
Pada tinjauan teori rencana keperawatan ditekankan pada nutrisi ,
termoregulator / lingkungan yang nyaman, dan pelasanaan tindakan septik dan
aseptik. Pada tinjauan kasus rencana keperawatan juga ditekankan pada hal
tersebut di atas.
Tindakan
Keperawatan
Seperti halnya dengan intervensi
yang direncanakan pada tinjauan teori, tindakan keperawatan yang dilakukan baik
dalan tinjauan teori dan tinjauan kasus adalah nutrisi , termoregulator /
lingkungan yang nyaman, dan pelasanaan tindakan septik dan aseptik.
Evaluasi
Keperawatan
Evaluasi pada tinjauan kasus
ditekankan pada tiap – tiap diagnosa sehingga dapat mencapai tujuan yang
diharapkan yangtercantum pada tujuan rencana keperawatan. Memang pencapaian
tujuan pada bayi dengan BBLR ini harus benar- benar prosedural .
3.
PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI BARU LAHIR DAN
ANAK
A.
Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir
Kegiatan ini merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan normalitas & mendeteksi adanya penyimpangan dari normal.
Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan.
Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
Kegiatan ini merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan normalitas & mendeteksi adanya penyimpangan dari normal.
Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan.
Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
1.
Prinsip
Pemeriksaan Pada Bayi Baru Lahir
Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan
Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan
Pastikan pencahayaan baik
Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yangg akan diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan segera selimuti kembali dengan cepat
Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh
Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan
Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan
Pastikan pencahayaan baik
Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yangg akan diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan segera selimuti kembali dengan cepat
Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh
2.
Peralatan
Dan Perlengkapan
a) Kapas
b) Senter
c) Termometer
d) Stetoskop
e) selimut bayi
f) bengkok
g) timbangan bayi
h) pita ukur/metlin
i) pengukur panjang badan
a) Kapas
b) Senter
c) Termometer
d) Stetoskop
e) selimut bayi
f) bengkok
g) timbangan bayi
h) pita ukur/metlin
i) pengukur panjang badan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar